2/12/2017

LDR story Part II + prewedding



lebih indah dari yang dibayangkan.
2 hari menjelang hari H saya baru memulai pre-wedding photoshoot. sangat singkat tapi tidak terburu-buru. untuk gaun yang saya kenakan itu sudah saya design dan jahit sendiri sekitar satu bulan sebelum hari keberangkatan saya sekeluarga ke Semarang pada tanggal 24 Desember 2016. ya, saya menikah di tempat mempelai pria di Semarang dan tidak ada pesta apapun di kediaman saya di Tangerang Selatan (dan saya merasa tidak ada yang salah dengan itu).

sampai di titik pre-wedding ini saya salut dengan tim Happy Wedding Organizer Semarang yang membuat semuanya selesai dengan sempurna tanpa membuat saya merasa dag dig dug setiap saat. dia yang meyakinkan saya bahwa LDR bukan masalah untuk tim nya menyelaraskan ide dengan saya, suami dan keluarga. memang betul itu yang saya rasakan. menjelang pre-wedding saya hanya bilang ke ketua tim WO bahwa saya ingin tema bohemian dan ingin menyatu dengan alam. hanya itu 'clue' yang saya kasih. kemudian dengan ajaibnya ketika saya tiba di lokasi yang sudah dijanjikan, betul-betul persis seperti apa yang saya bayangkan. lebih bagus lagi.


dan senyum tawa kami bukan hal yang dibuat-buat. di lokasi pemotretan, kami tertawa geli saat melihat satu sama lain. suamiku mulai ngomong yang aneh-aneh karna dia malu jadi pusat perhatian dan difoto + diliatin sama banyak orang. betul-betul pengalaman yang gak biasa tapi harus dirasain sekali seumur hidup. selain alasan yang udah saya sebut, pastinya karna kami bahagia. sangat bahagia. setelah pacaran 8 tahun dan dipisah jarak Indonesia-Jepang selama 2 tahun tanpa bertemu, akhirnya kita bertemu lagi di hari penting pernikahan kita. alhamdulillah.

"semua akan indah pada waktunya" jadi kalimat yang akhirnya saya setujui. penantian lama, panjang, susah, putus asa, dan sempet gak menghiraukan qada dan qadar-nya Allah. akhirnya saya ada di titik ini, dimana saya sadar bahwa doa dan usaha dapat membawa kita sampai ketujuan walau terasa berat dan seperti tidak berujung.


saya inget waktu curhat ke temen-temen deket tentang gimana sedihnya saya harus tinggal berjauhan, malam minggu sendiri, kemana-mana sendiri, hang out sendiri, sedangkan temen-temen lain bisa selalu bersama pasangannya. saya kaget dengan tanggapan yang beragam. ada yang nyuruh saya putus karna hubungan ini 'gak jelas' dimata mereka dan malah ada yang ngeremehin saya karna masih ada yang lebih parah keadannya.

terlepas dari lebih parah atau tidak, LDR adalah hal yang berat. toh, yang berkomentar gak pernah merasakan LDR dan sekalipun pernah, mereka lebih memilih untuk kandas. "apa gak takut diselingkuhin? lelaki itu ga bisa dipercaya. pasti dia gebet cewe lain disana. mending putus aja daripada sakit hati belakangan." saya sering denger kata-kata ini, mulai dari nada-nya nasehat penuh perhatian sampai jadi bahan ledekan. sejak saat itu, saya diam. tidak pernah sekalipun saya ekspos hubungan saya dengan pasangan sampai dekat pada hari pernikahan dan saya menyebar undangan. sebagian kaget, gak nyangka kalau saya 'diem-diem mau nikah'.

hanya saya yang mengerti diri saya, pasangan saya, dan apa yang sedang saya jalani. orang lain tidak akan pernah tau dan mengerti karna memang mereka tidak perlu mengerti apapun tentang saya.



apa 8 tahun berjalan dengan mulus? enggak. kami pernah putus dari yang balikan kurang dari 24 jam sampai putus gak kenal satu sama lain selama hampir satu tahun. kami sempat hilang kontak dan masing-masing mulai 'mencari', namun kosong.


"Sorry if I don't have faith in you, seems like you had a fail in love-now the love is gonna let you go."
- Freak Love by Toro Y Moi
I stop looking back at those scars. forward is the only word I have today.



one good reminder that I thought it was bullsh but it's true, "good things will come to those who wait".

Love, Cikita


No comments:

Post a Comment